Friday, January 28, 2011

Al-Waqtu fii Hayat Al-Muslim

  Perkara waktu bukanlah salah satu qodhiyah yang kecil  dalam kehidupan seorang muslim, melainkan ia merupakan urusan yang paling urgensi dalam Islam. Berapa banyak orang sukses dalam upayanya karena cerdas dalam mengatur waktu, dan berapa banyak orang yang hancur karena lalai dari padanya. Ulama-ulama kita terdahulu misalnya, keberhasilan mereka ternyata tanpa didukung oleh media-media yang memadai seperti saat ini, melainkan karena mereka tahu akan begitu berharganya waktu . Tidak jarang kita mendapatkan teguran agar pandai dalam mengatur waktu, baik itu dalam Al-kitab ataupun As-sunnah An-nabawiyah. Begitu pentingnya manajemen waktu, Allah swt sering kali bersumpah  menggunakan kata-kata itu dalam Al-qur'an, seperti al-lail wa an-nahar, wa al-fajri, wa ad-dhuha, wa al-ashri.


Mufassiriin  pun memberikan definisi bahwasanya ketika Allah bersumpah dengan sesuatu dari ciptaanNya maka itu adalah suruhan agar kita memperhatikannya, karena akan adanya manfaat dan dampak yang besar di balik itu. As-sunnah pun memeberikan penegasan dalam hal ini, dan memberikan penjelasan akan adanya  pertanggung jawaban manusia dalam menggunakan waktu di hadapan Allah swt, sehingga dua dari  empat pertanyaaan asas yang dihadapkan kepada seorang mukallaf ketika yaum al-hisab adalah bagaimana waktunya ia gunakan.

عن معاذ بن جبل أن النبى صلى الله عليه وسلم قال : "لن تزول قدما يوم القيامة حتى يسأل عن أربع حصال : عن عمره فيما أفنا وعن شبابه فيما أبلاه, وعن ماله من أين اكتسبه وفيما أنفقه وعن علمه ماذا عمل به"
Dari Mu'azd Ibnu Jabal bahwa Rosulullah Saw bersabda: "Tidak akan berpindah kaki seseorang pada hari kiamat sehingga ia ditanya tentang empat perkara; tentang umurnya bagaimanakah ia menghabiskan, tentang masa mudanya bagaimanakah ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan di mana ia infaqkan, dan tentang ilmunya apa yang telah dilakukan".

Dalam bukunya penulis menjelaskan karakteristik waktu yang perlu kita ketahui
  1. Waktu itu  begitu cepat berlalu
  2. Sesungguhnya waktu yang telah berlalu tidak akan kembali dan tidak ada gantinya
  3. Ia adalah sesuatu yang paling berharga bagi manusia.
Waktu itu akan berlalu seperti berlalunya awan, ia akan berlari seperti berlarinya angin, baik itu ketika senang ataupun susah. Katika hari-hari senang maka ia seakan-akan begitu cepat pergi, namun ketika hari-hari sedih maka ia seakan-akan lambat bahkan tidak berjalan, tapi pada hakikatnya tidaklah demikian. Setiap hari ia akan berlalu, setiap jam ia akan sirna, ia tidak akan kembali seperti semula, dan ia tidak ada gantinya.

Dan inilah ungkapan yang pernah dikatakan Hasan Al bashri, "Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu adalah kumpulan dari hari-hari, setiap kali hari itu berlalu maka berlalu pula sebagian umurmu.
Kemudian penulis juga memaparkan apa saja yang seharusnya dilakukan seorang muslim dalam menggunakan waktunya
  1. Hendaknya seorang muslim tamak terhadap pemanfaatan waktu
  2. Seorang muslim harus bisa memanfaatkan waktu luangnya sebelum datang waktu sempitnya
  3. Menjauhi tabzdir al-waqti
  4. Bersegera untuk melakukan kebaikan
  5. Wengambil pelajaran dari hari-hari yang telah lalu
  6. Manajemen waktu

Kewajiban utama seorang muslim terhadap waktu adalah menjaganya, seperti ia menjaga hartanya, bahkan lebih dari itu. Sungguh, para salaf as-sholih sangat tamak dalam pemanfaatan waktu, karena mereka adalah orang-orang yang lebih tahu akan berharganya waktu, mereka selalu memotifasi diri agar dari satu keadaan ke setiap keadaan itu lebih baik. Ungkapan mereka dalam hal ini adalah " barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka ia adalah orang yang beruntung, barang siapa hari ini sama dengan hari kemarin maka ia adalah orang yang merugi, dan barang siapa hari ini labih buruk dari kemarin maka ia adalah orang yang dilaknat.

Betapa sangat disayangkan kebanyakan dari kaum muslim yang saat ini kita ketahui, mereka lalai akan penggunaan waktu, menggunakannya untuk hal yang sama sekali tidak memberikan manfaat. Pada hakikatnya kebodohan dalam menghamburkan waktu itu lebih berbahaya dari pada menghamburkan harta, karena apabila harta itu hilang ada gantinya, tetapi apabila waktu yang hilang maka tidak ada gantinya.

Dari itulah, agar setiap waktu yang berlalu tidak sia-sia, penulispun menganjurkan selayaknya seorang muslim mempunyai manajemen waktu di antara kewajiban dan pekerjaan yang beragam, baik itu yang bersifat diniyah ataupun duniawiyah, sehingga tidak saling melampaui antara satu dengan yang lainnya, ataupun dari sesuatu yang penting di atas yang lebih penting.

Kemudian penulis memberikan penjelasan, sesungguhnya ada sebagian manusia yang memandang waktu yang akan datang itu dengan sudut pandang yang negativ. Mereka itu adalah orang-orang yang putus harapan terhadap masa depan mereka, tidak mempunyai cita-cita yang cerah, anggapan mereka bahwa hidup itu akan selamanya malam yang tidak akan menemui fajar, dan tidak  akan ada matahari yang menghapus kegelapan. Sudut pandang inilah yang akan menghancurkan dirinya dan orang sekelilingnya. Kehidupan seseorang yang tidak mempunyai cita-cita adalah kehidupan yang tidak ada ruh di dalamnya, tidak ada sebuah upaya untuk maju, dan tidak adanya kemajuan ilmu ke depan.
Pada kenyataannya, agama dan sejarah yang kita pelajari memberikan pernyataan sesungguhnya kemudahan itu datang setelah kesulitan, dan sesungguhnya setelah malam itu adalah fajar.
       
Pada bagian terakhir penulis menjelaskan bagaimanakah seharusnya seorang muslim itu mempunyai persfektif  terhadap waktu
  1. Seorang muslim harus melihat pada masa lalu dan menjadikannya satu pelajaran
  2. Ia harus melihat waktu yang akan datang
  3. Memberikan perhatian yang besar pada masa sekarang

Bukanlah sesuatu yang dapat dibenarkan meninggalkan atau melupakan masa lalu tanpa adanya satu  pelajaran yang diambil darinya dengan hujjah ia telah berlalu, karena ada suatu pelajaran, keutamaan, dan kelebihan yang diambil dari hal yang lama sedangkan ia tidak diperbaharui, bukankah Al-qur'an itu kalamullah yang tidak akan ada pembaharuan di dalamnya?

Oleh sebab itulah hendaknya seorang muslim menjadikan masa lalu itu sebagai cermin bagi dirinya, mengambil hikmah apa saja yang telah terjadi, meninggalkan dan menjauhi kesalahan yang terjadi di masa lalu agar tidak terulang kembali, dan yang tidak kalah penting adalah ia harus membuat perhitungan terhadap dirinya, "apakah yang harus ia lakukan, mengapa ia lakukan, apa yang harus ia tinggalkan, dan  mengapa ia tinggalkan?
Amirul mu'minin Umar bin Khattab pernah berkata : "Hitunglah dirimu sebelum kau di perhitungkan, dan timbanglah perbuatanmu sebelum kau dipertimbangkan".

Menejemen Waktu Dalam Islam

Syiar Islam menempatkan ibadah ritual pada waktu-waktu tertentu dalam sehari dari siang hingga malam dan pada waktu-waktu tertentu dalam setahun. Shalat lima waktu diwajibkan dari memulai hingga mengakhiri aktivitas dalam sehari, dan waktu-waktunya selaras dengan perjalanan hari. Agar menjadi panduan dan sistem yang baku dan cermat dalam menata kehidupan islami.







Dalam ajaran Islam, ciri-ciri seorang muslim yang ideal adalah pribadi yang menghargai waktu. Seorang Muslim tidak patut menunggu dimotivasi oleh orang lain untuk mengelola waktunya, sebab hal itu sudah merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Ajaran Islam menganggap pemahaman terhadap hakikat menghargai waktu sebagai salah satu indikasi keimanan dan bukti ketaqwaan, sebagaimana tersirat dalam surah Al-Furqan ayat 62 yang berbunyi: “Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.”

Syiar Islam menempatkan ibadah ritual pada waktu-waktu tertentu dalam sehari dari siang hingga malam dan pada waktu-waktu tertentu dalam setahun. Shalat lima waktu diwajibkan dari memulai hingga mengakhiri aktivitas dalam sehari, dan waktu-waktunya selaras dengan perjalanan hari. Agar menjadi panduan dan sistem yang baku dan cermat dalam menata kehidupan islami. Di samping itu, juga berfungsi untuk mengukur detik-detik sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Bahwa siang itu untuk bekerja dan malam untuk istirahat. Dan setiap siang hari dan malam yang kita jalani adalah untuk ibadah semata-mata karena Allah swt.

Dalam sejarah Rasulullah saw. dan orang-orang Muslim generasi pertama, terungkap bahwa mereka sangat memerhatikan waktu dibandingkan generasi berikutnya, sehingga mereka mampu menghasilkan sejumlah ilmu yang bermanfaat dan sebuah peradaban yang mengakar kokoh dengan panji yang menjulang tinggi. Jika kita sadar bahwa pentingya manajemen waktu, maka tentu kita akan berbuat untuk dunia ini seolah-olah akan hidup abadi, dan berbuat untuk akhirat seolah-olah akan mati esok hari. Di dalam surah Al-Mu'minuun ayat 1-3 Allah menyatakan: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna”. Sementara itu, dalam haditsnya, Rasulullah selalu menanamkan bahwa, “Salah satu kebaikan seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.”

Dari perintah-perintah Allah saw. dan sejarah perjalanan hidup Rasulullah terkandung hikmah yang dalam bagaimana kita sebagai orang muslim harus menata waktu dengan sebaik-baiknya. Allah swt. telah menunjukkan kepada kita dengan penataan waktu shalat, perjalanan siang dan malam yang sudah tertata dengan baik dan terencana. Itu semua menjadi petunjuk bagi kita bagaimana harus menata waktu ini dengan satu perencanaan dan pelaksanaannya dilakukan dengan sungguh-sungguh. Dan kemudian melakukan muhasabah sesudah pelaksanaannya, yaitu evaluasi diri atas apa yang telah kita lakukan.
Yang Harus Diperhatikan dalam Perencanaan.

Sebelum membuat perencanaan, ada enam hal yang harus kita perhatikan, yaitu:

1. Niat yang Kuat
Niat sama artinya dengan motivasi yang kuat. Tanpa adanya niat, kita tidak akan pernah berhasil dalam beramal. Tahun, bulan, atau hari tidak akan pernah menjadi tahun, bulan, atau hari yang berprestasi, seandainya kita tidak berniat untuk mengisinya dengan amal terbaik. Dan niat seorang muslim adalah melakukan amal ibadah setiap waktu karena Allah swt. Jika itu yang kita lakukan, semuanya akan memiliki nilai ibadah.

2. Memiliki Tujuan yang Jelas
Tujuan, cita-cita, atau segala sesuatu yang ingin kita capai. Tanpa adanya tujuan yang jelas, kita tidak akan fokus melangkah. Makin tidak jelas tujuan dan waktu pencapaiannya maka peluang gagalnya rencana kita akan makin besar. Dan tujuan kita melakukan amal ibadah dalam mengisi waktu-waktu kita adalah berharap ridha Allah swt.
Pelajari pula teknik membuat rencana dan segera membuat rencana yang matang dan teruji. Buat program dalam bentuk rencana harian, mingguan, dan bulanan.

Di sini penting pula memahami skala prioritas, mana yang harus didahulukan, dan mana pula yang bisa ditunda, mana yang harus di kerjakan, mana pula yang tidak. Dr. Yusuf Al-Qardhawi dalam Fikih Prioritas, mengungkapkan urutan amal yang terpenting diantara yang penting. Patokannya :
-Sangat Penting dan Sangat Mendesak dikerjakan pada urutan Pertama.
-Tidak Penting dan Sangat Mendesak dikerjakan pada urutan Kedua.
-Sangat Penting dan Tidak Mendesak dikerjakan pada urutan Ketiga.
-Tidak Penting dan Tidak mendesak dikerjakan pada urutan Keempat.

3. Buat Rencana Cadangan
Kita pun harus selalu siap dengan segala kemungkinan tak terduga. Kita merencanakan, tapi Allah yang menentukan. Karena itu, buat rencana B dan C sebagai rencana cadangan jika rencana utama mengalami kegagalan. Insya Allah kita tidak akan kehilangan waktu untuk panik.

4. Rencana atau Program Harus Realistis, Terukur, dan Adil
Hindari membuat rencana yang terlalu tinggi, tidak realistis, dan terlalu sulit dicapai. Program kita pun harus adil dan seimbang. Sebab kita harus menunaikan banyak hak, di mana setiap hak menuntut pemenuhan. Ada hak Allah, hak keluarga, dan hak akal, hak tetangga, hak badan, hak diri.

5. Disiplin dalam Rencana.
Sehebat apapun program dan rencana, tidak akan berarti sama sekali jika kita tidak disiplin melaksanakannya. Karena itu, jangan tergiur oleh kegiatan, kesenangan spontan, atau apa saja yang akan menjauhkan kita dari rencana yang telah disusun.

Selain itu, yang tak kalah penting, lawan dan kalahkan rasa malas. Tidak ada amal yang terlaksana jika kita malas. Malas adalah kendaraan setan. Malas tidak akan mendatangkan apapun, selain kerugian dan kesengsaraan. Ada satu prinsip, “Tiada Prestasi tanpa Disiplin”. Siapa lagi yang dapat memaksa kita untuk sukses selain diri kita sendiri.

6. Sempurnakan Setiap Kali Beramal.
Penyempurnaan adalah tahap akhir yang akan menentukan berkualitas tidak amal ibadah yang kita lakukan. Kita akan mendapatkan yang 'terbaik', jika melakukan yang terbaik pula.

Dengan merencanakan apa yang akan kita lakukan hari ini, kita akan berjalan di hari-hari ini dengan baik. Sehingga waktu yang terlewati akan bermanfaat sebagai amal ibadah kita hari ini. 

Al-Waqtu fii Hayat Al-Muslim

Wednesday, January 26, 2011

Bondan Prakoso & Fade 2 Black - Rock On The Beat






Bondan Prakoso & Fade 2 Black - Microphone XXX





Download Lyric 
Download Music

HUKUM MENGECAT/SEMIR RAMBUT (FATWA YUSUF QARDHAWI)

Sehubungan dengan masalah ini ada satu riwayat yang menerangkan, bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak memperkenankan menyemir rambut dan merombaknya, dengan suatu anggapan bahwa berhias dan mempercantik diri itu dapat menghilangkan arti beribadah dan beragama, seperti yang dikerjakan oleh para rahib dan ahli-ahli Zuhud yang berlebih-lebihan itu. Namun Rasulullah s.a.w. melarang taqlid pada suatu kaum dan mengikuti jejak mereka, agar selamanya kepribadian umat Islam itu berbeda, lahir dan batin. Untuk itulah maka dalam hadisnya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah s.a.w. mengatakan:

“Sesungguhnya orang-orang Yahudi tidak mau menyemir rambut, karena itu berbedalah kamu dengan mereka.” (Riwayat Bukhari)

Perintah di sini mengandung arti sunnat, sebagaimana biasa dikerjakan oleh para sahabat, misalnya Abubakar dan Umar. Sedang yang lain tidak melakukannya, seperti Ali, Ubai bin Kaab dan Anas.
Tetapi warna apakah semir yang dibolehkan itu? Dengan warna hitam dan yang lainkah atau harus menjauhi warna hitam?

Namun yang jelas, bagi orang yang sudah tua, ubannya sudah merata baik di kepalanya ataupun jenggotnya, tidak layak menyemir dengan warna hitam. Oleh karena itu tatkala Abubakar membawa ayahnya Abu Kuhafah ke hadapan Nabi pada hari penaklukan Makkah, sedang Nabi melihat rambutnya bagaikan pohon tsaghamah yang serba putih buahnya maupun bunganya.

Untuk itu, maka bersabdalah Nabi:

“Ubahlah ini (uban) tetapi jauhilah warna hitam.” (Riwayat Muslim)

Adapun orang yang tidak seumur dengan Abu Kuhafah (yakni belum begitu tua), tidaklah berdosa apabila menyemir rambutnya itu dengan warna hitam. Dalam hal ini az-Zuhri pernah berkata: “Kami menyemir rambut dengan warna hitam apabila wajah masih nampak muda, tetapi kalau wajah sudah mengerut dan gigi pun telah goyah, kami tinggalkan warna hitam tersebut.”22

Termasuk yang membolehkan menyemir dengan warna hitam ini ialah segolongan dari ulama salaf termasuk para sahabat, seperti: Saad bin Abu Waqqash, Uqbah bin Amir, Hasan, Husen, Jarir dan lain-lain.
Sedang dari kalangan para ulama ada yang berpendapat tidak boleh warna hitam kecuali dalam keadaan perang supaya dapat menakutkan musuh, kalau mereka melihat tentara-tentara Islam semuanya masih nampak muda.23

Dan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dzar mengatakan:

“Sebaik-baik bahan yang dipakai untuk menyemir uban ialah pohon inai dan katam.” (Riwayat Tarmizi dan Ashabussunan)

Inai berwarna merah, sedang katam sebuah pohon yang tumbuh di zaman Rasulullah s.a.w. yang mengeluarkan zat berwarna hitam kemerah-merahan.

Anas bin Malik meriwayatkan, bahwa Abubakar menyemir rambutnya dengan inai dan katam, sedang Umar hanya dengan inai saja.
——-
Kutipan dari Halal dan Haram dalam Islam.

Kisah segelas susu

Siang itu terasa terik sekali, Shandy menghentikan langkahnya dan berteduh pada sebuah pohon. Barang dagangannya belum ada yang terjual sama sekali, dia merasa lapar sekali padahal dikantongnya cuma ada uang lima ratus rupiah. Orang tuanya yang miskin tidak mampu membiayai Shandy sekolah namun tekadnya untuk belajar sangat tinggi sehingga setiap hari dia rela menelusuri jalan, keluar masuk komplek perumahan untuk berjualan dan hasilnya untuk membiayai sekolahnya.
Karena merasa sangat lapar akhirnya Shandy memutuskan untuk mengetuk pintu sebuah rumah dan berniat minta makanan tuk sekedar mengganjal perutnya, namun segera kehilangan keberaniannya ketika seorang gadis cantik telah membukakan pintu. Shandy tidak berani minta makanan, sedikit tergagap dia berkata, “boleh saya minta air minum”.
Gadis itu melihat bahwa si anak ini tampak kelaparan, gadis itu tersenyum lalu berkata, “tunggu sebentar”, dan tak lama kemudia gadis itu keluar dengan membawakannya segelas besar susu. Shandy pun meminumnya perlahan-lahan.
“Berapa harus kubayar segelas susu ini?” kata Shandy.
“Kau tidak harus membayar apa-apa,” jawab si gadis. “Namaku Melati, ibu melarangku menerima pembayaran atas kebaikan yang kulakukan.”
Shandy begitu terharu, dan berkata, “Bila demikian, ku ucapkan terima kasih.”

Shandy lalu meninggalkan rumah itu.
Ia tidak saja lebih kuat badannya, tapi keyakinannya kepada Allah dan kepercayaannya kepada sesama manusia menjadi semakin mantap. Sebelumnya ia telah merasa putus asa dan hendak menyerah pada nasib.
**************
Beberapa tahun kemudian Melati menderita sakit parah.
Para dokter setempat kebingungan sewaktu mendiagnosa penyakitnya. Mereka lalu mengirimnya ke kota besar dan mengundang beberapa dokter ahli untuk mempelajari penyakit langka si pasien. Dokter-dokter terbaik dipanggil ke ruang konsultasi untuk dimintai pendapat.

Ketika mendengar nama pasien dan kota asal si pasien, terlihat pancaran aneh dari mata salah seorang Dokter.
Ia segera bangkit lalu berjalan di lorong rumah sakit dengan berpakaian dokter untuk menemui si pasien. Dokter itu segera mengenali wanita sakit itu. Ia lalu kembali ke ruang konsultasi dengan tekad untuk menyelamatkan nyawanya.

Sejak hari itu Dokter tersebut memberikan perhatian khusus pada kasus si pasien. Setelah dirawat cukup lama, akhirnya si pasien bisa disembuhkan. Dokter itu meminta kepada bagian keuangan agar tagihan rumah sakit diajukan kepadanya dahulu untuk disetujui sebelum diserahkan kepada si pasien.
Nota tagihan pun kemudian dikirimkan ke kantornya. Ia mengamati sejenak lalu menuliskan sesuatu di pinggirnya. Tagihan itu kemudian dikirimkan ke kamar pasien.
Si pasien takut membuka amplop nota tagihan karena yakin bahwa untuk dapat melunasinya ia harus menghabiskan sisa umurnya.
Akhirnya, tagihan itu dibuka dan pandangannya segera tertuju pada tulisan di pinggir tagihan itu :

Telah dibayar lunas dengan segelas susu
Tertanda
dr. Shandy
Air mata bahagia membanjiri mata si pasien. Ia berkata dalam hati,“Terima kasih Allah, cinta-Mu telah tersebar luas lewat hati dan tangan manusia.”

Hapuslah Air Mata di Pipi, Hilangkan Lara di Hati

Kegelisahan, kedukaan dan air mata adalah bagian dari sketsa hidup di dunia. Tetesan air mata yang bermuara dari hati dan berselaputkan kegelisahan jiwa terkadang memilukan, hingga membuat keresahan dan kebimbangan. Kedukaan karena kerinduan yang teramat sangat dalam menyebabkan kepedihan yang menyesakkan rongga dada. Jiwa yang rapuh pun berkisah pada alam serta isinya, bertanya, dimanakah pasangan jiwa berada. Lalu, hati menciptakan serpihan kegelisahan, bagaikan anak kecil yang hilang dari ibunya di tengah keramaian.

Keinginan bertemu pasangan jiwa, bukankah itu sebuah fitrah? Semua itu hadir tanpa disadari sebelumnya, hingga tanpa sadar telah menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan. Sebuah fitrah pula bahwa setiap wanita ngin menjadi seorang istri dan ibu yang baik ketimbang menjalani hidup dalam kesendirian. Dengan sentuhan kasih sayang dan belaiannya, akan terbentuk jiwa-jiwa yang sholeh dan sholehah.

Duhai...
Betapa mulianya kedudukan seorang wanita, apalagi bila ia seorang wanita beriman yang mampu membina dan menjaga keindahan cahaya Islam hingga memenuhi setiap sudut rumahtangganya.

Allah SWT pun telah menciptakan wanita dengan segala keistimewaannya, hamil, melahirkan, menyusui hingga keta'atan dan memenuhi hak-hak suaminya laksana arena jihad fii sabilillah. Karenanya, yakinkah batin itu tiada goresan saat melihat pernikahan wanita lain di bawah umurnya? Pernahkah kita menyaksikan kepedihan wanita yang berazam menjaga kehormatan diri hingga ia menemukan kekasih hati? Dapatkah kita menggambarkan perasaannya yang merintih saat melihat kebahagiaan wanita lain melahirkan? Atau, tidakkah kita melihat kilas tatapan sedih matanya ketika melihat aqiqah anak kita?

Letih...
Sungguh amat letih jiwa dan raga. Sendiri mengayuh biduk kecil dengan rasa hampa, tanpa tahu adakah belahan jiwa yang menunggu di sana.

Duhai ukhti sholehah...
Dalam Islam, kehidupan manusia bukan hanya untuk dunia fana ini saja, karena masih ada akhirat. Memang, setiap manusia telah diciptakan berpasangan, namun tak hanya dibatasi dunia fana ini saja. Seseorang yang belum menemukan pasangan jiwanya, insya Allah akan dipertemukan di akhirat sana, selama ia beriman dan bertaqwa serta sabar atas ujian-Nya yang telah menetapkan dirinya sebagai lajang di dunia fana. Mungkin sang pangeran pun tak sabar untuk bersua dan telah menunggu di tepi surga, berkereta kencana untuk membawamu ke istananya.

Keresahan dan kegelisahan janganlah sampai merubah pandangan kepada Sang Pemilik Cinta. Kalaulah rasa itu selalu menghantui, usah kau lara sendiri, duhai ukhti. Taqarrub-lah kepada Allah SWT. Kembalikan segala urusan hanya kepada-Nya, bukankah hanya Ia yang Maha Memberi dan Maha Pengasih. Ikhtiar, munajat serta untaian doa tiada habis-habisnya curahkanlah kepada Sang Pemilik Hati. Tak usah membandingkan diri ini dengan wanita lain, karena

Allah SWT pasti memberikan yang terbaik untuk setiap hamba-Nya, meski ia tidak menyadarinya. Usahlah dirimu bersedih lalu menangis di penghujung malam karena tak kunjung usai memikirkan siapa kiranya pasangan jiwa. Menangislah karena air mata permohonan kepada-Nya di setiap sujud dan keheningan pekat malam. Jadikan hidup ini selalu penuh dengan harapan baik kepada Sang Pemilik Jiwa. Bersiap menghadapi putaran waktu, hingga setiap gerak langkah serta helaan nafas bernilai ibadah kepada Allah SWT. Tausyiah-lah selalu hati dengan tarbiyah Ilahi hingga diri ini tidak sepi dalam kesendirian.

Bukankah kalau sudah saatnya tiba, jodoh tak akan lari kemana. Karena sejak ruh telah menyatu dengan jasad, siapa belahan jiwamu pun telah dituliskan-Nya.

Sabarlah ukhti sholehah...
Bukankah mentari akan selalu menghiasi pagi dengan kemewahan sinar keemasannya. Malam masih indah dengan sinar lembut rembulan yang dipagar bintang gemintang. Kicauan bening burung malam pun selalu riang bercanda di kegelapan. Senyumlah, laksana senyum mempesona butir embun pagi yang selalu setia menyapa.

Hapuslah air mata di pipi dan hilangkan lara di hati. Terimalah semua sebagai bagian dari perjalanan hidup ini. Dengan kebesaran hati dan jiwa, dirimu akan menemukan apa rahasia di balik titian kehidupan yang telah dijalani. Hingga, kelak akan engkau rasakan tak ada lagi riak kegelisahan dan keresahan saat sendiri. Semoga.

Wallahua'lam bi shawab.

*MERENGKUH CINTA DALAM BUAIAN PENA*
Al-Hubb FiLlah wa LiLlah,

Penulis: Abu Aufa

Catatan: Tulisan ini adalah hasil editing dari tulisan lamanya Abu Aufa yang berjudul Usah Kau Lara Sendiri.

Abu Aufa : (Penulis buku Diari Kehidupan 2, telah diterbitkan oleh
PT Syaamil Cipta Media, Bandung, 2004)